Kaum pluralis menganggap bahwa studi dalam Hubungan Internasional bukan hanya pada hubungan antara negara-negara saja, karena dalam Hubungan Internasional didalamnya terdapat pula hubungan antara masyarakat, kelompok-kelompok, dan organisasi-organisasi yang berasal dari negara berbeda atau lintas batas internasional. Hubungan kerja sama yang coba diciptakan kaum pluralis ternyata menguntungkan ketimbang gengsi militer para kaum realis. Oleh karena itu Viotti dan Kauppi berasumsi mengenai dasar-dasar Pluralisme yaitu:
Non-state actor adalah faktor utama dalam world politics
Misalnya organisasi internasional, non-governmental organization seperti Multinational Coorperation (MNC) yang mempunyai peran penting dalam world politics.
State bukan unitary actor
State terdiri dari berbagai individu, kelompok kepentingan, dan birokrasi yang saling berinteraksi satu sama lain yang dimana didalamnya juga terdapat berbagai kepentingan.
State’s behavior selalu rasional
Hal ini merupakan tantangan terhadap asumsi Realis yang menyatakan bahwa state adalah rational actor. Aktor bisa bertingkah laku irrasional karena keputusan suatu state merupakan hasil interaksi berbagai pihak seperti individu, kelompok kepentingan, dan birokrasi.
Agenda atau isu-isu dalam Hubungan Internasional
Pluralis menganggap bahwa isu-isu ekonomi, sosial , dan ekologi lebih penting ketimbang isu keamanan nasional, seiring dengan berkembangnya interdependensi di antara state dan society pada abad ke-20. Para kaum pluralis menganggap bahwa isu sosioekonomi lebih penting daripada masalah keamanan.
Pada dasarnya dasar-dasar dari Pluralisme tidak jauh berbeda dengan liberalisme, karena konsep dasar Pluralisme itu sendiri merupakan perkembangan dari dua tema besar, yaitu konsep Liberalisme sebagai filsafat politik dan konsep Liberalisme Kelompok Kepentingan sebagai suatu pendekatan untuk mempelajari politik domestik.
makasih sgt membantu buat tugas mata kuliah :)
BalasHapus